Lima Jurus Ampuh Mengatasi Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Saat Pandemi Virus Corona
Penulis : M. Raihan Gunawan
Sebelum masuk kedalam pembahasan, penulis ingin
menarik anda kembali ke masa lalu. Virus Corona mungkin
menjadi pandemi terbesar pada era modern ini, namun kenyataanya ada
pandemi serupa yang pernah terjadi pada masa lalu.
Mengutip knowledgetime, Virus Corona merupakan
wabah pandemik mematikan terbesar keempat sejak pertama kali muncul tahun
1720 silam. Dimana pandemi
covid-19 ini sebenarnya merupakan pengulangan kasus pandemi yang pernah melanda
dunia.
Virus pandemik dalam sejarah manusia tercatat datang setiap 100 tahun
sekali, uniknya dengan dua angka pada tahun terakhirnya 20.
Diawali
pada tahun 1720 terjadi sebuah wabah muncul dengan sekala besar yang disebut
penyakit pes atau dikenal dengan The Great Plague of Marseille. Kemudian
berulang tahun 1820 terjadi sebuah pandemi kolera yang penyebarannya di Asia.
Berselang 100 tahun kemudian pada 1920 terjadi Flu Spanyol. Dan terakhir adalah
wabah virus corona tahun 2020. (Khoirul, 2020)
Dalam
Islam, kita meyakini bahwa tidak ada sesuatu yang tercipta sendirinya atau
terjadi secara kebetulan. Semua hal didunia ini, apapun itu termasuk juga virus
corona ini sudah menjadi ketetapan dan kuasa Allah Subhanahu Wata’ala. Dan sudah
seharusnya kita sebagai muslim percaya akan takdir yang datang dari Allah
Subhanahu Wata’ala serta bersikap sabar dalam menjalaninya.
Kembali
ke pembahasan kita diawal, penyebaran wabah COVID-19 yang begitu cepat di RI
tentunya memberikan dampak terhadap bidang kesehatan masyarakat namun juga
berdampak signifikan terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia. Himbauan
physical distancing, bekerja, belajar dan beribadah di rumah, hingga pelarangan
kegiatan yang menimbulkan kerumunan tentunya membuat roda ekonomi nyaris
terhenti.
Dikutip
dari finance.detik.com, konsumsi swasta, yang menyumbang hampir 60% pergerakan
ekonomi nasional, dipastikan akan mengalami kontraksi. Penjualan retail, baik
di pasar tradisional dan pasar modern dipastikan turun. Bahkan, sebelum kasus
Covid-19 teridentifikasi di Indonesia, data Indeks Penjualan Riil yang
dikeluarkan Bank Indonesia sudah menunjukkan kontraksi 0,3% pada bulan Januari
2020. (Sugianto, 2020)
Hal
ini juga berdampak pelemahan mata uang rupiah terhadap dollar Amerika. Dikutip
dari market.bisnis.com pada Rabu (1/4/2020), pergerakan nilai tukar rupiah
berakhir melemah 140 poin atau 0,86 persen ke level Rp16.450 per dolar AS, saat
indeks dolar AS naik 0,35 persen atau 0,348 poin ke posisi 99,396. (Nugroho & Andriani,
2020) .
Dan diprediksi akan terus melemah.
Lalu,
dengan kondisi sekarang apa yang bisa kita perbuat? Sebenarnya ada banyak hal
yang bisa kita perbuat untuk menekan perlambatan pertumbuhan serta sekaligus
mengakhiri pendemik korona di Indonesia. Penulis akan menjabarkan tahap demi
tahapan menjadi lima jurus ampuh mengatasi perlambatan pertumbuhan saat pandemi
virus Corona. Adapun ide yang didapat ialah hasil dari pendapat ekonom senior
yang penulis rangkum berupa kebijakan untuk perbaikan ekonomi RI.
Pertama,
waktunya pemerintah memberhentikan sementara proyek infrastruktur besar. Seperti
yang kita ketahui bersama bahwasanya
pembangunan infrastruktur menjadi program prioritas Presiden Joko
Widodo (Jokowi). Sederet proyek infrastruktur besar Indonesia seperti,
transportasi umum, jalan, hingga jembatan. Seluruhnya merupakan proyek
infrastruktur konektivitas yang dibangun menggunakan dana APBN, APBD maupun
kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU). (Indraini, 2020) . Dalam kondisi
sekarang, sudah saatnya pemerintah memberhentikan sementara dan fokusnya
sekarang adalah menanggulangi serta memberantas penyebaran virus Corona di
Indonesia. Dana yang dialokasikan untuk infrastruktur tersebut dialihkan ke
tiga sector, yaitu kesehatan (melawan pandemic), persediaan makanan, dan daya
beli masyarakat miskin.
Kedua,
tidak anjurkan membeli kembali saham. Dikutip dari katadata.co.id, Indeks harga
saham gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi pertama Senin (23/3) turun hingga
3,83% ke level 4.034,1. Seluruh indeks sektoral memerah, namun sektor konsumen
dan aneka industri turun paling dalam seiring jumlah korban meninggal
virus corona yang terus bertambah. (Aldin, 2020) . Seperti yang
dilakukan oleh BUMN yang akan membeli kembali saham yang tercatat di Bursa Efek
Indonesia (BEI). Sebaiknya menahan diri untuk tidak membeli kembali saham,
karena kondisi sekarang sedang terjadi penurunan harga saham dan akan berdampak
kerugian.
Ketiga,
gunakan momentum pandemik virus Corona untuk menambah produksi pertanian buah
dan sayur. Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan negara yang kaya akan
sumber daya alam, namun disisi lain masih ketergantungan impor dengan negara
lain. Saat ini sudah saatnya Indonesia mandiri dengan produksi pertanian buah
dan sayur untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri dan kalau perlu kita impor ke
negara lain. Dengan cara melakukan studi kelayakan tanah di beberapa daerah
serta memberikan subsidi kepada petani berupa bibit dan pupuk untuk mendorong
produksi dalam negeri.
Keempat,
mengubah sistem nilai tukar dari fleksibel exchange rate menjadi fix exchange
rate. Misalnya 1 USD = 15.000 Rupiah untuk waktu dalam 1 tahun. Kalau sudah
stabil, maka dikembalikan. Kenapa hal ini dilakukan? Karena gejolak perkonomian
yang tidak stabil dapat membawa dampak yang signifikan terhadap sector-sektor
lain. Belajar dari waktu krisis 1998, Malaysia tidak mengikuti saran dari IMF.
Pada September 1998, otoritas Malaysia melakukan kebijakan kontrol modal
(capital control), menetapkan nilai tukar ringgit terhadap dollar (RM3,8/USD),
dan memotong suku bunga. (Sandra, 2018) . Dan hasilnya mata
uang ringgit stabil dan pemerintahan tidak turun. Sebaliknya, Indonesia
mendengar saran dari IMF yang berakibatkan rupiah dari 2.500 rupiah per dollar
AS anjlok ke 15.000 dan ditambah dengan kerusuhan social yang berkibatkan
mundurnya presiden Soeharto.
Terakhir,
yang kelima adalah menghentikan perdagangan bursa saham sementara. Dikutip dari
wartaekonomi.co.id, IHSG merosot 5% atau 234,55 poin ke posisi 4.456,09 pada
pukul 15:02 waktu JATS. Ada 4,27 miliar saham diperdagangkan sebanyak 347,617
kali senilai Rp5,39 triliun. (Nurfitriani, 2020) . Dan hanya ada 54
saham yang menguat, 364 saham malah tercatat merosot dan 83 saham tak bergerak.
Investor asing sudah melakukan aksi jual Rp837,84 triliun. Dalam kondisi
darurat seperti sekarang, Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat menghentikan
sementara perdagangan bursa saham dalam kurun waktu yang ditentukan.
References
Aldin, I. U., 2020. katadata.co.id.
[Online]
Available at: https://katadata.co.id/berita/2020/03/23/corona-hantam-sektor-konsumer-aneka-industri-ihsg-sesi-i-turun-38
[Accessed 1 April 2020].
Available at: https://katadata.co.id/berita/2020/03/23/corona-hantam-sektor-konsumer-aneka-industri-ihsg-sesi-i-turun-38
[Accessed 1 April 2020].
Indraini, A., 2020. finance.detik.com. [Online]
Available at: https://finance.detik.com/infrastruktur/d-4835138/daftar-infrastruktur-raksasa-yang-beroperasi-tahun-ini
[Accessed 1 April 2020].
Available at: https://finance.detik.com/infrastruktur/d-4835138/daftar-infrastruktur-raksasa-yang-beroperasi-tahun-ini
[Accessed 1 April 2020].
Khoirul, M. A., 2020. Intisari.grid.id. [Online]
Available at: https://intisari.grid.id/read/032054922/virus-corona-seolah-seperti-settingan-sejarah-mencatatkan-setiap-100-tahun-sekali-muncul-wabah-pada-tahun-yang-berakhir-dengan-angka-20-benarkah-hanya-kebetulan?page=all
[Accessed 1 April 2020].
Available at: https://intisari.grid.id/read/032054922/virus-corona-seolah-seperti-settingan-sejarah-mencatatkan-setiap-100-tahun-sekali-muncul-wabah-pada-tahun-yang-berakhir-dengan-angka-20-benarkah-hanya-kebetulan?page=all
[Accessed 1 April 2020].
Nugroho, A. C. & Andriani, R. S., 2020. market.bisnis.com.
[Online]
Available at: https://market.bisnis.com/read/20200401/93/1220632/nilai-tukar-rupiah-terhadap-dolar-as-hari-ini-1-april-2020
[Accessed 1 April 2020].
Available at: https://market.bisnis.com/read/20200401/93/1220632/nilai-tukar-rupiah-terhadap-dolar-as-hari-ini-1-april-2020
[Accessed 1 April 2020].
Nurfitriani, A., 2020. wartaekonomi.co.id. [Online]
Available at: https://www.wartaekonomi.co.id/read276897/bursa-harus-stop-perdagangan-lagi-karna-ambruk-5
[Accessed 1 April 2020].
Available at: https://www.wartaekonomi.co.id/read276897/bursa-harus-stop-perdagangan-lagi-karna-ambruk-5
[Accessed 1 April 2020].
Sandra, G., 2018. ekbis.rmol.id. [Online]
Available at: https://ekbis.rmol.id/read/2018/05/12/339586/perbedaan-penanganan-krisis-asia-1997-1998-di-malaysia-vs-thailand-dan-indonesia
[Accessed 2 April 2020].
Available at: https://ekbis.rmol.id/read/2018/05/12/339586/perbedaan-penanganan-krisis-asia-1997-1998-di-malaysia-vs-thailand-dan-indonesia
[Accessed 2 April 2020].
Sugianto, D., 2020. finance.detik.com. [Online]
Available at: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4957376/begini-virus-corona-lumpuhkan-ekonomi-ri/1
[Accessed 1 April 2020].
Available at: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4957376/begini-virus-corona-lumpuhkan-ekonomi-ri/1
[Accessed 1 April 2020].

Wiih ade ane keren uga niih.
ReplyDeleteSalam pena literasi 😇
Semoga bermanfaat kaka :)
ReplyDelete